Baglog jamur adalah fondasi utama dari keberhasilan budidaya jamur tiram, merang, atau kuping. Jika miselium (benang putih jamur) tidak tumbuh merata, stagnan, atau bahkan muncul kontaminasi berwarna, itu adalah indikasi adanya kesalahan fundamental pada salah satu tahapan budidaya.
Kegagalan ini, yang kerap merugikan petani, umumnya berakar pada lima penyebab krusial, mulai dari tahap persiapan hingga manajemen lingkungan.
1. Sterilisasi yang Tidak Tuntas dan Kontaminasi Silang
Penyebab kegagalan nomor satu adalah sterilisasi media tanam yang tidak sempurna. Media seperti serbuk gergaji secara alami membawa spora jamur liar dan bakteri. Tujuan sterilisasi adalah membunuh semua mikroorganisme ini.
Kegagalan terjadi ketika waktu steaming (pengukusan) terlalu singkat, atau suhu panas yang ideal ( hingga ) tidak tercapai secara merata di seluruh tumpukan baglog. Akibatnya, jamur pesaing seperti Trichoderma sp. (kapang hijau) yang tahan panas akan tumbuh lebih cepat daripada miselium yang diinokulasi, menyebabkan kontaminasi.
Solusi utamanya adalah memastikan baglog di-steaming minimal 6 hingga 8 jam setelah suhu maksimal tercapai. Selain itu, segera buang baglog yang terkontaminasi agar spora tidak menyebar ke baglog sehat lainnya.
2. Komposisi Media Tanam dan pH yang Tidak Seimbang
Baglog yang sehat membutuhkan komposisi bahan baku (serbuk gergaji, dedak, kapur, gips) yang tepat, serta tingkat keasaman yang ideal. Jamur tiram sangat sensitif terhadap tingkat ; pertumbuhan optimal terjadi pada rentang 6 hingga 7 (netral hingga sedikit asam).
Jika terlalu rendah (asam), biasanya karena kekurangan kapur, pertumbuhan miselium akan terhambat. Selain itu, serbuk gergaji yang digunakan harus sudah mengalami pelapukan, karena serbuk yang baru dipotong masih mengandung getah atau resin yang bersifat toksik.
Solusi terbaik adalah melakukan uji sederhana pada campuran media dan memastikan penambahan kapur () yang memadai untuk menstabilkan , sekaligus memastikan serbuk gergaji sudah di-komposkan atau dilayukan terlebih dahulu.
3. Kualitas Bibit Buruk dan Proses Inokulasi Non-Aseptis
Setelah media siap, kegagalan bisa terjadi di fase inokulasi jika kualitas bibit jamur (F2) yang digunakan sudah menurun atau terkontaminasi. Bibit yang sudah lama disimpan cenderung lemah dan tidak mampu bersaing.
Lebih jauh lagi, proses pemindahan bibit ke baglog sering kali menjadi titik masuk kontaminasi. Kegagalan terjadi ketika alat inokulasi atau tangan pekerja tidak steril, atau bahkan ketika baglog belum dingin sepenuhnya (suhu tinggi akan membunuh miselium bibit).
Pencegahannya meliputi pemilihan bibit yang putih merata dan padat dari produsen terpercaya, dan yang terpenting, melakukan inokulasi di ruangan yang bersih dan steril, serta memastikan baglog sudah bersuhu ruangan saat dibibit.
4. Suhu Inkubasi Kumbung yang Terlalu Tinggi
Fase inkubasi, di mana miselium mengisi baglog, membutuhkan suhu yang stabil, idealnya berkisar antara hingga . Kesalahan fatal terjadi ketika kumbung (rumah jamur) terlalu rapat, minim ventilasi, dan kepadatan baglog yang disusun terlalu tinggi.
Kondisi ini menyebabkan suhu internal baglog meningkat signifikan, yang pada akhirnya akan membunuh miselium yang sedang tumbuh, bahkan jika miselium sempat tumbuh sedikit, ia akan berhenti.
Cara mengatasinya adalah dengan merancang kumbung yang memiliki sirkulasi udara yang baik (ventilasi) dan memberikan ruang yang cukup antar tumpukan baglog, terutama saat cuaca sedang panas ekstrem, untuk menjaga suhu tetap dalam batas optimal.
5. Manajemen Kelembapan dan Air yang Salah di Fase Produksi
Setelah miselium tumbuh penuh, baglog dipindahkan ke ruang produksi untuk memicu pembentukan buah jamur. Pada tahap ini, kegagalan sering terjadi karena manajemen kelembapan yang tidak tepat. Kelembapan udara relatif (RH) harus dijaga di atas 70% (idealnya 80%-90%) agar bakal jamur (pin head) dapat berkembang sempurna.
Jika penyiraman (misting/pengabutan) terlalu sedikit, bakal jamur akan kering dan mati. Sebaliknya, penyiraman yang berlebihan bisa membuat baglog terlalu basah, memicu tumbuhnya bakteri atau pembusukan.
Solusinya adalah melakukan penyiraman dengan teknik pengabutan halus yang diarahkan ke dinding dan lantai kumbung, bukan langsung ke permukaan baglog, serta memantau kondisi kelembapan secara rutin untuk menjamin RH berada dalam rentang yang dibutuhkan.
—
Keberhasilan budidaya jamur sangat bergantung pada ketelitian dalam mengontrol parameter lingkungan dan kebersihan. Dengan menguasai lima poin kritis ini—sterilisasi, komposisi media, kualitas bibit, kontrol suhu, dan manajemen kelembapan—petani dapat secara signifikan mengurangi risiko kegagalan dan memaksimalkan potensi panen.






